Artikel

project

MENDONGKRAK WIBAWA GURU

Posted by TRI PANJIANTO IDL 2017 - Cirebon Posted at 12 Mei 2018 08:45:56 171 0


MENDONGKRAK WIBAWA GURU

Jam istirahat sudah habis, bel tanda masuk sudah berbunyi. Anak-anak memasuki kelas masing-masing untuk mengikuti pelajaran berikutnya. Namun sebagian anak-anak masih tetap berada diluar kelas, ternyata anak-anak yang diluar guru yang mengajar pada kelas tersebut berhalangan hadir, sehingga mereka bebas bermain diluar. Aktivitas anak-anak yang sedang bermain dihalaman segera terhenti dan mereka semua berlarian masuk ke kelas ketika mereka melihat seorang guru lewat. Apa yang terjadi? Bukankah guru itu belum mengucapkan sepatah kata pun untuk melarang mereka bermain ? dia juga tidak menghardik dan menyuruh mereka untuk masuk kelas. Lalu mengapa anak-anak segera sadar dan langsung berlarian masuk ke kelas mereka?

Ya, tidak lain disebabkan kehadiran fisik guru sudah mampu menjadi bahasa tersendiri, yakni bahasa peraturan. Fisik guru itu telah mampu berbicara kepada anak-anak dan mengingatkan mereka tentang apa yang boleh diperbuat dan apa yang tidak boleh dilakukan. Guru itu tidak perlu memperlihatkan wajah marah untuk mengingatkan mereka. Ia juga tidak membutuhkan kata-kata untuk menyuruh anak-anak masuk kelas. Ia hanya butuh satu senyuman untuk membuat anak-anak menyadari kesalahan-kesalahannya. Dengan melihat senyuman itu, anak-anak seolah-olah mendengar guru berkata, “Bel tanda masuk sudah dibunyikan, ayo, segeralah masuk kelasmu, isi waktumu untuk membaca”. Dan anak-anak pun segera berhamburan masuk ke kelas mereka. Itulah gambaran sederhana tentang wibawa seorang guru. Guru yang berwibawa tidak perlu mengeluarkan banyak energi untuk menegur dan menyuruh anak. Ia juga tidak perlu mengeluarkan suara keras untuk menyuruh anak masuk kelas. Ia hanya butuh senyuman dan satu kalimat yang diucapkan dengan pelan saja. Bahkan, kadang-kadang guru yang berwibawa tidak perlu satu senyuman atau satu kalimat pun. Kehadiran fisik mereka saja sudah mampu mengembalikan suasana penuh pelanggaran menjadi kondisi yang penuh ketaatan pada peraturan.

Munculnya fenomena tersebut, tentunya dilatar belakangi oleh beberapa hal. Pertama, bergesernya orientasi pendidikan kita. Pendidika kita tidak lagi berorientasi pada mendidik manusia untuk baik, tapi lebih mengajar manusia untuk cerdas. Dalam tataran yang lebih praktis, pendidikan lebih berorientasi untuk mendapatkan pekerjaan. Sampai sini, peserta didik tak ubahnya seperti robot, sedangkan sekolah tidak beda dengan sebuah pabrik. Padahal pendidikan pada hakekatnya tidak hanya menjadikan manusia menjadi cerdas (kognitif) dan terampil (psikomotorik), namun juga mendidik menjadi manusia yang baik (afektif).

Kedua, gejala pragmatisme guru. Saat ini, boleh jadi sangat sedikit sekali guru yang "iklas" dalam mengajar. Iklas di sini bukan hanya persoalan materi, namun lebih sebagai pengejawantahan niat beribadah atau orientasi moral-spiritual. Mengajar adalah upaya aktualisasi diri, begitu jika meminjam bahasa Maslow. Munculnya kebijakan sertifikasi guru, semakin menandaskan gejala pragmatisme ini. Pada derajat tertentu, guru mengajar bukan lagi karena suara hati, namun lebih karena tuntutan profesi.

Ketiga, arus demokratisasi dan kebebasan yang sepi makna. Demokratisasi yang terjadi pasca reformasi membawa arus penguatan Hak Asasi Manusia (HAM) bagi warga negara. Hal ini di satu sisi memang sangat positif, namun di sisi lain mendorong setiap orang untuk berlindung di bawah isu HAM tersebut. Dalam kaitannya dengan pendidikan, terjadi de-patronisasi terhadap guru.

Artinya, guru di hadapan siswa tidak lagi dipandang sebagai pribadi yang tinggi dan harus dihormati, namun lebih sebagai partner dalam pembelajaran. Beberapa kasus menunjukkan, bagaimana seorang guru harus berurusan dengan pihak berwajib, hanya kareana ia menjewer siswanya. Hingga pada akhirnya, siswa menjadi manja, dan guru pun menjadi lembek karena takut resiko. Yang terjadi, pembelajaran dilakukan dengan setengah hati dan tidak maksimal. Padahal dalam pembelajaran ada metode reward and punishment, dimana hukuman adalah sesuatu yang sah dalam pembelajaran. Meskipun ini bukan berarti membenarkan kekerasan yang dilakukan oleh guru, namun bagaimana guru berani mendidik melalui berbagai metode yang dirasa lebih efektif.

Berangkat dari lemahnya posisi tawar guru tersebut, maka perlu kiranya upaya untuk menempatkan guru sesuai dengan kodrat guru yang semestinya. Salah satu upaya yang bisa dilakukan dalam hal ini adalah dengan melakukan perlindungan terhadap profesi guru.  Perlindungan profesi ini mengisyaratkan bahwa guru mempunyai perlindungan hukum dam melaksanakan tugasnya sebagai guru. Sehingga orang tidak mudah menuntut bahkan memeja hijaukan guru dalam kasus yang berkenaan dengan pelaksanaan tugas guru tersebut. Meskipun perlindungan ini tidak bersifat mutlak, namun ada batas-batas hukum tertentu yang berkaitan dengan perlindungan profesi, misalnya kriminalitas, korupsi dan sebagainya.

Perlindungan profesi ini juga harus diimbangi dengan implementasi kewajiban guru secara maksimal. Artinya, ada konsekuensi tertentu ketiga guru tidak bisa melaksanakan kewajibannya secara optimal. Sehingga ada keseimbangan antara hak dan kewajiban guru dalam rangka mewujudkan pembelajaran yang efektif. Mengembalikan wibawa guru menjadi sosok yang ideal bagi siswa adalah salah satu upaya menjadikan pendidikan kita lebih produktif. Sebagai penutup kiranya Hadits ini dapat menjadi renungan kita bersama,"Laisa minna man lam yarham shoghirana walam yuwaqqir kabirana", tidak termasuk ummatku (Muhamad SAW) orang yang tidak cinta kepada yang lebih muda, dan orang yang tidak menghormati yang lebih tua.

Pendidikan akan lebih produktif bila yang lebih tua (guru) bisa menyayangi yang lebih muda (murid), sebaliknya yang lebih muda juga harus menghormati yang lebih tua. Jadi, semakin tinggi wibawa seorang guru di mata para siswa, semakin ringanlah pekerjaannya. Dia tak perlu berteriak-teriak ketika siswanya membuat gaduh. Cukup dengan menghadirkan dirinya di hadapan siswa-siswanya yang melakukan pelanggaran, siswa-siswanya akan berhenti dengan sendirinya.

Menurut Henry Fayol, kewibawaan berarti hak memerintah dan kekuasaan untuk membuat kita dipatuhi dan ditaati. Ada juga orang mengartikan kewibawaan dengan sikap dan penampilan yang dapat menimbulkan rasa segan dan rasa hormat. Sehingga dengan kewibawaan seperti itu,anak didik merasa memperoleh pengayoman dan perlindungan. Secara sederhana, wibawa dapat dimaknai sebagai kemampuan untuk mempengaruhi dan menguasai orang lain. Wibawa bisa muncul dari dua hal , karisma dan performa. Karisma biasanya muncul dengan sendirinya karena merupakan bawaan seseorang sejak lahir.

Pertama. Karisma biasannya berkaitan dengan hal-hal yang melekat pada pribadi seseorang, seperti postur tubuh, bentuk wajah, gaya bicara, tatapan mata, sampai cara berjalan. Seseorang yang karismatik tidak perlu belajar terlebih dahulu atau mengubah penampilan untuk mencari perhatian orang lain. Ia sudah memiliki daya pikat yang dibawanya sejak lahir. Dari sinilah munculnya kemampuan untuk membuat orang lain terpesona dan terpengaruh. Kata karisma berasal dari bahasa Yunani, charizhesthai, yang berarti menolong. Makna konotasi teologis dari kata ini adalah bakat atau kekuatan yang dianugerahkan oleh Tuhan. Seperti itulah yang dikatakan oleh Clip R. Bell dan Billijack R. Bell dalam memaknai kata karisma di dalam bukunya, Magnetic Service . Didalam buku itu, Clip dan Billijack mengibaratkan karisma sebagai magnet. Sebuah magnet selalu memiliki kemampuan untuk memikat, menarik, menahan dan mencengkeram dengan kuat objek yang ada didekatnya.

Karisma memiliki sifat-sifat yang sama dengan sebuah magnet. Sifat-sifat karismatik yang termasuk dalam konteks ini adalah menarik perhatian seseorang, mengajak dan membawanya kearah tertentu, serta menahannya hingga orang tersebut tidak mau meninggalkan dirinya. Orang yang karismatik biasanya memiliki banyak pengikut yang fanatik dengan tingkat kekaguman yang luar biasa. Mereka tidak mau mengambil sikap dan keputusan tertentu sebelum ada penjelasan daei orang yang dikaguminya itu.

Karisma adalah keistimewaan yag bersifat pribadi yang berbentuk daya pikat dan pesona yang dimiliki seseorang untuk membuat orang lain tertarik dan terpengaruh. Seorang guru yang karismatik akan menghadirkan pengalaman yang unik bagi para siswa sehingga hatinya merasa tertawan. Hanya para siswa akan menjadi tawanan di tangan guru karismatik ini. Maka, bisa dibayangkan betapa mudahnya guru itu mengelola para siswa yang sudah tertawan dan “tak berdaya”.

Selain itu, penampilan fisik seseorang memiliki pengaruh terhadap kewibawaannya. Oleh karena itu, seorang guru tidak boleh bersikap cuek terhadap penampilan fisiknya. Jangan sampai karena alasan sibuk menangani anak-anak, seorang guru tidak memerhatikan penampilan fisiknya. Atau, karena waktu yang sempit dan genting, guru melangkah terburu-buru dihadapan para siswa sehingga terlihat lucu. Jika itu terjadi, niscaya kewibawaannya akan turun di hadapan para siswa. Tetap lah melangkah dengan tenang, tetapi menunjukkan kecekatan dalam menghadapi siuasi yang genting dan terburu-buru.

Kedua, Perkara yang bisa meningkatkan wibawa seseorang adalah performa, yaitu,kebiasaan yang lahir dari standar dan plan kerja yang dimiliki guru. Dibandingkan dengan karisma, performa lebih mudah dipelajari dan dibentuk karena tidak terkait dengan hal-hal yang sifatnya bawaan. Guru yang cerdas dan selalu bisa mengatasi persoalan akan terlihat lebih berwibawa daripada guru yang terlihat gagap dan jarang memberi solusi terhadap suatu masalah. Guru yang secara konsisten menunjukkan rasa tidak suka terhadap siswa yang melanggar aturan, lebih disegani siswa daripada guru yang tidak konsisten menampilkan ketidaksukaannya kepada pelanggar aturan. Guru dibilang tidak konsisten jika terkadang marah ketika melihat ada siswa yang melanggar aturan dan terkadang membiarkannya.

Secara bahasa, performa memiliki arti sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan. Jadi, peforma yang baik adalah daya pikat seseorang dalam menawan hati orang lain dengan prestasi kerja yang bagus. Berbeda dengan karisma yang terkait penampilan fisik, performa menitiberatkan pada bagaimana tampilan nonfisik seseorang. Biasanya, performa terwujud dalam bentuk sikap tegas, cerdas, sopan, konsisten, jujur dan selalu memiliki solusi saat menghadapi masalah.

Hal yang penting mengenai performa ini adalah konsisten. Untuk apa ketegasan dan kecerdasan kalau hanya muncul sekali saja, lalu tidak muncul di waktu lainnya. Sekali lagi, buat apa semua itu jika tidak dilakukan dengan konsisten. Hanyalaha kesia-siaan yang akan didapatkan. Tanpa konsistensi, ketegasan dan kecerdasan tidak akan mampu membentuk performa. Alhasil kewibawaan yang diinginkan tidak akan terwujud.

Kinerja yang bagus harus ditampilkan secara terus menerus di setiap waktu dan keadaan. Syukur bisa terus tingkatkan. Hanya dengan cara inilah performa seseorang akan terbentuk dengan kuat. Guru yang selalu mempersiapkan dirinya ketika hendak mengajar akan terlihat berwibawa daripada guru yang tidak siap. Bila kinerja guru kadang-kadang bagus dan terkadang buruk, maka siswa sulit menangkap performa gurunya. Dan kewibawaan guru tersebut akan jatuh di hadapan siswa.

Faktor paling utama adalah persiapan mental yang baik disamping persiapan rencana pembelajaran dan alat peraga. Tanpa persiapan mental, rencana pembelajaran dan alat peraga tidak akan membawa dampak positif. Sebab, itu hanyalah persiapan di tataran yang paling luar. Motivasi, keikhlasan dan antusiasme merupakan persiapan yang sangat esensial sebagai pendamping kesiapan dan penguasaan materi pelajaran atau alat peraga.

Seorang guru menginginkan penghormatan yang tulus dari para siswa, bukan penghormatan semu. Penghormatan yang semu membuat para siswa hanya taat aturan ketika ada guru. Ketika guru pergi, mereka akan kembali melakukan pelanggaran. Ketaatan itukah yang kita inginkan? Sikap galak seorang guru biasanya muncul karena ia mencoba menutupi kekurangan, baik kekurangan pribadinya sendiri maupun sistem sekolahnya. Kemarahan guru karena tersinggung ketika dikritik siswanya merupakan cara untuk menutupi kekurangan diri. Apapun alasannya, meledaknya emosi guru yang melahirkan kemarahan, merupakan bukti bahwa kita tidak mampu mengendalikan dirinya. Ketidakmampuan inilah yang berusaha ditutupi guru hadapan siswa dengan bersikap galak.

Jika sikap galak ini dapat memberikan rasa takut kepada para siswa, mungkin masih lumayan. Lebih parah lagi jika sikap galak tersebut tidak mampu melahirkan rasa takut atau hormat sedikitpun. Ada banyak guru yang justru ditertawakan oleh siswanya ketika marah. Semakin marah sang guru, semakin geli pula siswa-siswanya. Sebab, siswa dengan tipikal tertentu malah tertarik untuk membuat sang guru marah. Mereka menyeringai puas ketika berhasil membuat guru itu marah. Dan, guru pun semakin kehilangan akal untuk mengatasi suasana semacam itu. Mau marah salah, didiamkan semakin salah. Dan, siswa-siswanya tetap sulit dikendalikan. Jika kondisi seeperti ini yang terjadi, hilang sudah wibawa guru tersebut.

Efek dari sikap galak rasa hormat semu atau rasa takut semata. Sebaliknya, penghormatan yang tulus d an sebenarnya hanya akan terlahir dari pengakuan siswa terhadap kelebihan gurunya, baik kelebihan secara lahir dari karisma, maupun performa yang dimilikinya. Itulah pilar dasar wibawa.


Share this:


Ada 0 Komentar

Kirim Komentar


Maaf, Anda tidak dapat mengirimkan komentar. Silahkan login terlebih dahulu atau jika Anda belum menjadi Member silahkan daftar.

Please wait...