Artikel

project

JIKA SEBUAH PERKATAAN GURU TIDAK DI INDAHKAN

Posted by TRI PANJIANTO IDL 2017 - Cirebon Posted at 12 Mei 2018 08:57:03 95 0


JIKA SEBUAH PERKATAAN GURU TIDAK DI INDAHKAN

(Sumber: Film Freedom Writers)

 

 

Cobalah ingat bahwa Tuhan memuliakan mereka yang mau bekerja keras. Dan modal utama untuk keberhasilan adalah kerja keras yang diiringi doa. Jangan mengeluhkan masalah, karena Tuhan mempunyai tujuan tuk perjuanganmu saat ini. Pelajarilah apa yang hendak Tuhan ajarkan. Jangan berhenti berupaya ketika menemui kegagalan. Karena kegagalan adalah cara Tuhan mengajari kita tentang arti kesungguhan.

Kapitalisme pendidikan telah merubah orientasi pendidikan dan pola relasi guru-murid ke arah yang materialis dan mekanis. Sebaliknya, tujuan pendidikan dan model hubungan guru-murid dalam pendidikan yang Islami lebih bersifat spiritual dan berupa penghambaan demi meraih ridla Allah. Penelitian kepustakaan ini mengkaji pandangan Ibnu ‘Athaillah tentang relasi guru-murid ditinjau dari perspektif kapitalisme pendidikan. Sumber data utamanya adalah buku-buku karangan Ibnu ‘Athaillah tentang relasi guru-murid, terutama kitab al- Hikam, dan buku-buku karangan penulis lain yang mengulas tentang kapitalisme pendidikan. Artikel ini menyimpulkan bahwa pandangan Ibnu ‘Athaillah tentang relasi guru-murid secara khusus dan hakekat pendidikan secara umum perlu direvitalisasi di masa sekarang, karena kapitalisme pendidikan dalam beberapa segi telah menghilangkan spirit ruhaniah dalam pendidikan dan justru mendukung proses-proses yang mengarah kepada dehumanisasi.

Etika adalah ilmu tentang  apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral atau akhlak  Kamus Besar Bahasa Indonesia. ( Solomon 1984:2) Kemudian etika diartikan pula sebagai studi tentang cara penerapan hal yang baik bagi hidup manusia yang mencakup dua aspek:

1.     Disiplin ilmu yang mempelajari nilai-nilai dan pembenarannya.

2.      Nilai-nilai hidup nyata dan hukum tingkah laku manusia yang menopang nilai-nilai tersebut.

Berbicara etika maka berbicara moral pula, dan moral tentu berkaitan dengan pendidikan, hampir seluruh aspek kehidupan berkaitan dengan pendidikan, karena ilmu dalam pendidikan mencakup semua aspek,   seluruh disiplin ilmu dapat dipelajari dalam dunia pendidikan.

Selanjutnya, banyak  ahli mendefinisikan tentang pendidikan, salah satu nya adalah Ki Hajar Dewantara yang di juluki sebagai bapak pendidikan Indonesia, beliau mengartikan bahwa pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter) pikiran (intelek) dan pisik anak. Kemudian, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1991) pendidikan diartikan sebagai proses pembelajaran bagi individu untuk mencapai pengetahuan dan pemahaman yang lebih tinggi mengenai obyek-obyek tertentu dan spesifik. Pengetahuan tersebut diperoleh secara formal yang berakibat individu mempunyai pola pikir dan perilaku sesuai dengan pendidikan yang telah diperolehnya.

Jadi pendidikan adalah suatu proses belajar yang di lakukan oleh individu sebagai upaya untuk memajukan budi pekerti, intelektual dan psikis anak. Selanjutnya dalam   UU RI No. 2 tahun 1989 (Bab I, ps 1, ayat 1) pendidikan ialah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan/atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang, dan selanjutnya di artikan pula pendidikan dalam UU RI No. 20 tahun 2003 (Bab I, ps 1, ayat ) bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Setelah kita menegtahui pengertian pendidikan, kita semua sebagai guru maupun calon guru seyogyanya harus paham mengenai pengertian pendidik, agar kita tidak salah ataupun keliru dalam mendidik siswa. Guru adalah seorang pendidik, maka  berhasil tidaknya suatu proses pendidikan   adalah tanggungjawab dari sang guru. Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidik menuntun segala kekuatan kodrat anak sebagai manusia sebagai anggota masyarakat agar mancapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.

definisi pendidik dalam UU RI No. 20 tahun 2003: Bab XI, pasal 39 ayat 1: bahwa pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi

Jadi dapat diambil benang merah dari definisi diatas mengenai pendidik, pendidik adalah tenaga penuntun kodrat anak sebagai anggota masyarakat, serta pendidik adalah tenaga professional yang bertugas membimbing dan melaksanakan pembelajaran atau dengan kata lain guru adalah tenaga pendidik.

Jika sebelumnya dijelaskan mengenai guru sebagai pendidik, maka ada siswa sebagai peserta didik yang harus kita pahami pula. Selanjutnya  dalam UU RI No. 20 tahun 2003 (Bab I, pasal 1 ayat 4) dijelaskan bahwa peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang dan jenis pendidikan tertentu.

Ada pendidikan, pendidik dan peserta didik, maka ada pula tujuan pendidikan tujuan pendidikan :

1.      Memberikan arah kegiatan pendidikan

2.      Merupakan sesuatu yang ingin dicapai oleh kegiatan pendidikan

         Lingkungan pendidikan adalah semua kondisi yang dengan cara itu mempengaruhi tingkah laku, pertumbuhan dan perkembangan manusia

         Lingkungan pendidikan pada dasarnya adalah latar tempat berlangsungnya pendidikan. Lingkungan meliputi segala material dan stimuli di dalam dan di luar diri individu, bersifat fisiologis, psikologis, atau ssosiokultural.

Dalam realitanya etika atau moral adalah kebutuhan utama dalam peradaban masyarakat sosial karena perihal kenyamanan berkomunikasi, belajar, dll adalah bagian dari etika. Berkaitan dengan guru sebagai tenaga pendidik dan sebagai kontrol siswa, saya menanggapi sebuah film yang berkaitan dengan etika dan profesi guru serta peran guru sebagai tenaga pendidik,  film tersebut  berjudul freedom writers, dan berikut synopsis atau cerita singkat mengenai film freedom writers:

   Film Freedom Writers diadopsi dari buku harian murid-murid di suatu sekolah yang berada di ruang 203 Woodrow Wilson H.S Long Beach, California, Amerika Serikat. Freedem Writers adalah film yang diangkat dari kisah nyata perjuangan seorang guru di wilayah New Port Beach, Amerika Serikat.   Erin Gruwell, seorang wanita idealis berpendidikan tinggi, datang ke Woodrow Wilson High School sebagai guru Bahasa Inggris kelas rendah untuk kelas khusus anak-anak korban perkelahian antargeng rasial dalam kelas. siswa-siswanya berasal dari pelbagai daerah yang tentunya berbeda-beda ras, warna kulit, dsb. Siswa-siswa tersebut oleh para guru di vonis sebagai siswa yang nakal, anarkis, dan tidak bisa di atur . Bukan tanpa alasan, siswa-siswa tersebut adalah para gangster, pengedar narkoba, dsb. Padahal waktu itu (tahun 1992-1994), permasalahan utama yang dihadapi oleh Erin adalah para siswanya yang berkubu-kubu dan sensitive dengan perkelahian, mereka berkumpul dengan ras nya masing, perbedaan ras sanagt terasa mereka yang berkulit putih dengan kaumnya, begitu pula dengan yang berkulit hitam berkumpul dengan sukunya jua. Terdapat beberapa ras dalam satu kelas yang saling berusaha menyerang ataupun mempertahankan diri, wilayah, dsb. 

Di saat yang bersamaan pula  sedang terjadi konflik rasisme di Amerika.  Dan konflik itu ternyata sampai terbawa dalam kelas pula, hingga walaupun di kelas, mereka   tidak belajar sebagaimana mestinya.   Erin sebagai guru ia  merasa panggilan jiwanya untuk meredam konflik siswanya di kelas selain itu Erin memiliki misi sangat mulia, yaitu ingin memberikan pendidikan yang layak bagi anak-anak bermasalah yang bahkan guru yang lebih berpengalaman pun enggan mengajar mereka. Namun ternyata kenyataan tidak sama seperti yang dipikirkan Erin. Di hari pertamanya ia mengajar, ia baru menyadari bahwa perang antargeng yang terjadi di kota tersebut juga terbawa sampai ke dalam kelas. Siswanya dalam kelas   duduk berkelompok menurut ras dan kaumnya  masing-masing. Tak ada seorang pun yang mau duduk di kelompok ras yang berbeda.

Mereka sangat sensitive dengan perkelahian bahkan kesalahpahaman kecil yang terjadi di dalam kelas bisa memicu perkelahian antarras.

Erin mencoba menaklukkan murid-muridnya dengan meminta mereka menulis surat dan  semacam buku harian. Di buku harian itu, mereka boleh menulis apa pun yang mereka inginkan, rasakan, dan alami. Cara ini ternyata berhasil. Buku-buku harian dari para murid-muridnya setiap hari kembali pada Erin dengan tulisan mereka tentang apa yang mereka alami dan mereka pikirkan setiap hari.

Dari buku-buku harian itu, Erin paham bahwa dia harus membuat para muridnya sadar bahwa perang antargeng yang mereka alami bukanlah segalanya di dunia. Melalui cara mengajarnya yang unik, dia berusaha membuat para muridnya sadar bahwa dengan pendidikan mereka akan bisa mencapai kehidupan yang lebih baik.

Usahanya Erin untuk melakukan misi nya mendidik murid-muridnya secara baik ternyata  tidak didukung oleh rekan-rekan guru yang lain dan pihak sekolah, tetapi  Erin terus maju. Bahkan, dia rela mengorbankan waktu luangnya untuk bekerja sambilan demi membeli buku-buku bacaan yang berguna  bagi para muridnya. Hasilnya, semangat belajar murid-muridnya kembali muncul. Akhirnya, banyak dari murid-murid di kelas Erin Gruwell yang menjadi orang pertama dari keluarga mereka yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Buku harian yang mereka tulis diterbitkan menjadi sebuah buku berjudul ‘The Freedom Writers Diary’.

   Menariknya dalam film ini juga menceritakan bagaimana proses pendidikan apihak sekolah yang sudah mendapat otonomi sekolah terintegrasi tidak menjalankan sistem pendidikan multikultural ini, tetapi Erin tetap menjalankannya dengan dukungan dari pihak-pihak lain. Erin menggunakan beberapa metode salahsatu metodenya yaitu, permainan garis dan kunjungan ke museum merupakan pelatihan yang diberikan Erin kepada murid-muridnya agar lebih sadar budaya (kultur), dengan menganalisis kultur yang dipengaruhi faktor historis, sosial, dan politik sehingga membentuk pandangan mereka tentang kultur dan etnis.

    Erin merasa kelimpungan karena dihari pertamanya mengajar tak ada satupun siswanya yang antusisas, semua sibbuk dengan geng ras nya masing-masing, mengobrol, rebut dll.    Dalam kelas itu Erin sebagai guru sangat di hiraukan dan tk di anggap sama sekali apalagi dihormai, namun dengan semangat an kegigihan Erin, ia tetap bersemangat untuk mencari solusi dari permasalahan ini, hingga beberapa metode ia terapkan pada siswanya, seperti menulis diary dan perubahan tempat duduk, permainan garis. 

    Sampai pada suatu hari, ketika ada provokasi rasis di dalam kelas tersebut lagi, sang guru benar-benar sudah bosan   dengan tingkahlaku para siswanya. Sang guru menyatakan bahwa mereka (siswanya) belum ada apa-apanya. Gangster, ras, yang mereka bela mati-matian, belum ada apa-apanya dibandingkan dengan Holocaust, ketika pada Perang Dunia ke-2 Nazi Jerman membantai habis-habisan kaum Yahudi di Eropa. Di saat sedikit menjelaskan itulah, sang guru bisa mulai sedikit menarik perhatian (hati) para siswanya. Diputarkanlah video tentang Perang Dunia ke-2 Nazi Jerman membantai habis-habisan kaum Yahudi di Eropa itu. 

   Dengan berbagai cara yang dilakukan pada siswanya, akhirnya  siswanya mulai saling terbuka (terbukti dengan mereka mau menulis), menumpahkan segala keluh-kesah, sang guru mengajak mereka berjalan-jalan ke luar kota untuk mencari tahu apa itu Holocaust. Arsip-arsip tulisan, foto, presentasi multimedia, menggugah perasaan para siswanya. Setelah itu, selain masih meneruskan tulisan mereka, mereka juga diberi bacaan baru, The Diary of Anne Frank. Sekedar untuk membandingkan kisah hidup mereka (para siswa) dengan Anne Frank (seorang anak perempuan Yahudi yang terpaksa bersembunyi dari kejaran Nazi Jerman).

Perlahan-lahan siswa yang tadinya sangat rasis anarkis   ‘tidak mau hormat’ itu terbuka hatinya dan menyadari bahwa apa yang mereka lakukan selama ini adalah salah.

Dalam misisnya mendidik rintangan yang dihadapi Erin bukanlah melulu karena siswanya, tapi tengah semangatnya Erin dia mnegalami konflik dengan suaminya ia dilemma karena suaminya yang seharusnya memebri semnagat dan dukungan padanya malah mennayakan apakah Erin memilih muridnya ataukah ia suaminya.  Namun atas segala kgigihan dan usahanya Erin berhasil membuka pikiran siswa-siswanya dan berhasil mendidik mereka menjadi sisiwa yang baik dan lulus denganbaik pula.

Menanggapi film tersebut terdapat banyak hal yang harus kita pelajari sebagai tenaga pendidik dalam mendiidk siswa, seperti abgaimana caranya menyikapi sisiwa, metode yang digunakan dll.

Adapun metode yang digunakan adalah metode pengkondisian kelas, dengan acra itu sang guru berhasil dan mengurangi konflik rasis yang terjadi antara ras kulit hitam sebagai kaum minoritas yang dianggap rendah oleh ras kulit putih.

 


Share this:


Ada 0 Komentar

Kirim Komentar


Maaf, Anda tidak dapat mengirimkan komentar. Silahkan login terlebih dahulu atau jika Anda belum menjadi Member silahkan daftar.

Please wait...