Artikel

project

GURU SI KUTU BUKU

Posted by TRI PANJIANTO IDL 2017 - Cirebon Posted at 12 Mei 2018 09:01:43 177 0


GURU SI KUTU BUKU

Guru adalah sosok yang bisa digugu lan ditiru (Jawa). Seorang guru bisa di jadikan panutan dan tauladan dalam kehidupan bagi siapa saja, terutama bagi siswanya. Maka dari itu, tauladan membaca dan menulis dari seorang guru sangat diperlukan bagi siswa. Apalagi adanya penggalakan program literasi di sekolah. Literasi yang mengacu pada kemampuan membaca, menulis, dan mempergunakan berbagai media sebagai sumber belajar secara kritis.

Seperti halnya profesi lain, maka profesi guru juga memiliki kode etik yang disebut dengan kode etik guru. Kode etik profesi adalah norma-norma yang harus diindahkan dan diamalkan oleh setiap anggotanya dalam melaksanakan tugas dan pergaulan hidup sehari-hari dalam masyarakat. Pada Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok Kepegawaian pada Pasal 28 disebutkan, kode etik merupakan pedoman sikap dan perilaku di dalam dan di luar kedinasan. Kemudian pada kode etik pegawai negeri sipil disebutkan bahwa kode etik adalah pedoman sikap, perilaku, dan perbuatan di dalam melaksanakan tugas dan dalam hidup sehari-hari. Jadi, kode etik profesi guru merupakan norma-norma yang dijadikan sebagai landasan oleh sekelompok guru dalam melaksanakan tugas dan pergaulannya di lingkungan pendidikan. Lingkungan pendidikan tersebut oleh Ki Hajar Dewantara disebut dengan istilah Tri Pusat Pendidikan, meliputi lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat. Menurut Novan Ardy Wiyani (2015) bahwa, kode etik profesi guru terdapat dua unsur pokok. Pertama, kode etik profesi guru adalah landasan moral bagi guru. Kedua, kode etik profesi guru merupakan pedoman bagi guru dalam berperilaku. Sebagai landasan dalam berperilaku bagi sekelompok guru, norma pada kode etik profesi guru berisi berbagai petunjuk mengenai bagaimana seharusnya guru bekerja serta berbagai larangan yang harus tidak boleh dilakukan oleh guru ketika bekerja. Kode etik profesi guru di Indonesia disebut dengan istilah Kode Etik Guru Indonesia atau KEGI. KEGI adalah norma dan asas yang disepakati serta diterima oleh guru-guru Indonesia sebagai pedoman sikap dan perilaku dalam melaksanakan tugas profesi sebagai pendidik, anggota masyarakat, serta warga negara Republik Indonesia. KEGI tersebut kemudian menjadi sesuatu yang membedakan antara profesi guru dengan profesi lainnya. Pada Keputusan Kongres XXI Persatuan Guru Republik Indonesia Nomor VI/Kongres/XXI/PGRI 2013 tentang kode etik guru terungkap bahwa KEGI merupakan pedoman perilaku guru Republik Indonesia dalam melaksanakan tugas keprofesionalannya. Pada keputusan kongres tersebut juga terungkap bahwa KEGI terbagi menjadi dua bagian, yaitu bagian kewajiban guru secara umum dan bagian kewajiban guru secara khusus. Kewajiban guru secara umum yaitu: pertama, menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan sumpah atau janji guru. Kedua, melaksanakan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, dan mengevaluasi peserta didik untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pendidikan diharapkan dapat melahirkan peserta didik yang memiliki spesifikasi sebagai berikut: Pertama, beriman, bertaqwa, dan berakhlak mulia. Kedua, sehat jasmani, berilmu dan terampil mengaplikasikan ilmunya. Ketiga, Pancasilais. Adapun kewajiban guru secara khusus adalah, pertama kewajiban kepada peserta didik yang meliputi: bertindak profesional, memberikan layanan pembelajaran sesuai karakteristik peserta didik; mengembangkan suasana pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan; menghormati martabat dan hak-hak peserta didik; melindungi perta didik; menjaga kerahasiaan pribadi peserta didik; menjaga hubungan profesional dengan peserta didik.

Kedua, kewajiban guru kepada orang tua atau wali peserta didik, meliputi: menghormati hak orang tua atau wali peserta didik untuk berkonsultasi secara jujur; membina hubungan kerjasama untuk kepentingan mutu pendidikan; menjaga hubungan profesional dengan orang tua atau wali peserta didik. Ketiga, kewajiban guru terhadap masyarakat, meliputi: menjalin komunikasi yang efektif dan bekerjasama secara harmonis dengan masyarakat; mengakomodasi aspirasi dan keinginan masyarakat dalam meningkatkan mutu pendidikan; bersikap responsif terhadap perubahan; menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif; menjunjung tinggi kehormatan dan martabat serta menjadi panutan bagi masyarakat. Keempat, kewajiban guru terhadap teman sejawat, yang meliputi: membangun suasana kekeluargaan, solidaritas dan saling menghormati; saling berbagi ilmu pengetahuan, teknologi, keteramp[ilan, seni dan pengalaman; menjaga kehormatan dan rahasia pribadi; menghindari tindakan yang berpotensi menciptakan konflik antar teman sejawat. Kelima, kewajiban guru terhadap profesi, yang meliputi: menjunjung tinggi jabatan guru sebagai profesi; mengembangkan profesionalisme secara berkelanjutan; melakukan tindakan atau mengeluarkan pendapat yang tidak merendahkan martabat profesi; dalam melaksanakan tugas, tidak menerima janji dan pemberian yang dapat mempengaruhi keputusan dan tugas keprofesionalannya; melaksanakan tugas secara bertanggung jawab terhadap kebijakan pendidikan.

Keenam, kewajiban guru terhadap organisasi profesi yang meliputi: menaati peraturan dan berperan aktif dalam melaksanakan program organisasi profesi; mengembangkan dan memajukan organisasi; mengembangkan organisasi profesi untuk peningkatan profesionalitas guru; menjunjung tinggi kehormatan dan martabat organisasi profesi; melakukan tindakan atau mengeluarkan pendapat yang tidak merendahkan organisasi profesi. Ketujuh, kewajiban guru terhadap pemerintah, yang meliputi: berperan serta menjaga kesatuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dalam wadah NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945; berperan serta dalam melaksanakan program pembangunan pendidikan; melaksanakan ketentuan yang ditetapkan oleh pemerintah. Berdasarkan berbagai kewajiban di atas, maka sebenarnya kode etik profesi guru atau KEGI bukan hanya menjadi landasan bagi guru dalam berperilaku saja, tetapi juga menjadi suatu standar perilaku yang harus ditampilkan oleh guru. Ketika standar perilaku tersebut terpenuhi, maka terjadilah hubungan yang harmonis antara guru dengan dirinya sendiri, peserta didik, wali peserta didik, teman sejawat, masyarakat, organisasi profesi dan pemerintah

Untuk meningkatkan minat baca di sekolah perlunya pembiasaan bagi peserta didik. Melalui program pembiasaanya tersebut diharapkan dapat menumbuh kembangkan minat baca peserta didik. Mengingat Minat baca dikalangan anak didik / siswa pada era sekarang masih kurang. Masih banyak dari siswa yang menyia-nyiakan waktu luangnya untuk membaca sehingga minat belajarnya pun juga kurang. Kenapa demikian ? Karena dari pendidiknya tidak mentauladani, bahkan juga tidak sedikit dari pendidik yang enggan mau masuk ke perpustakaan. Walau hanya sekedar melihat, tentunya akan berpengaruh bagi siswa. Apalagi jika seorang guru mau mentauladani membaca di perpustakaan ketika waktu luang atau saat jam istirahat.

Efek dari minimnya minat baca akan berpengaruh terhadap minat menulis. Ini terbukti bahwa kemampuan menulis karya ilmiah di negeri ini sangat rendah. Supaya program literasi tersebut dapat berjalan dengan baik, maka perlu perubahan sikap dari seorang guru. Jika seorang guru gemar membaca dan menulis, ini akan berdapak pada peserta didik. Di negara ini sudah berapa banyak guru yang mendapatkan tunjangan tambahan, akan tetapi berapa banyak dari pendidik tersebut yang dengan sadar telah menyisihkan penghasilannya untuk membeli buku untuk dibaca. Dan berapa banyak dari kalangan guru tersebut juga mau menulis.

Guru adalah pembelajar sejati. Dengan kata lain adalah pembelajar sepanjang hayat. Maka dari itu, perubahan perilaku guru sebagai grda terdepan dalam pergerakan literasi sekolah perlu dirubah. Jika gurunya suka membaca, menteladani anak didiknya maka kegiatan gemar membaca pun juga akan tertanam di diri anak. Bayangkan, berapa harga satu buku jika dibanding dengan pendapatn tunjangan guru yang diterima. Andaikan setiap guru bisa mengalokasikan pendapatannya dengan membeli satu buku di setiap bulannya. Maka akan timbul seribu perilaku baru di dunia ini. Melalui membaca, orang bisa menembus batas-batas ruang dan waktu. Sebuah peristiwa yang terjadi jauh di masa lalu masih bisa dibaca atau diketahui melalaui membaca buku. Selain itu, membaca akan menambah kecerdasaan otak. Dengan membaca referensi kosa kata akan bertambah. Seperti seorang penulis, mereka pasti suka membaca. Karena penulis yang baik adalah pembaca yang baik. Akan tetapi, seorang pembaca belum tentu mejnadi seorang penulis. Walaupun seorang pembaca bukan seorang penulis, setidaknya bisa mengakses informasi atau pengetahuan- pengetahuan baru. Inilah pentingnya membaca. Dari kegiatan membaca, bisa memotivasi seseorang untuk menulis. Melalui kegiatan menulis sederhana, seperti pengalaman-pengalaman hingga suatu karya penelitian. Membaca yang dikuti kegiatan menulis akan menimbulakn suatu pengalam yang tak terlupakan. Karena ilmu yang ditulis dalam sebuah buku akan bersemayam sepanjang zaman.

Walau seseorang tersebut telah tiada maka, ilmunya masih bisa dirakan oleh siapa saja. Ilmu yang disampaikan secara lisan bertahan tidak begitu lama. Program penulisan satu guru satu buk yang digencarkan oleh Ikatan Guru Indonesia, seharusnya disambut dengan antusia oleh seorang guru. Bukan hanya, mengejar suatu sertifikat saja akan tetapi sebagi bentuk ilmu pengalaman baru yang nantinya guru mempunyai kempuan menulis, selain kemampuan membaca. Oleh sebab itu, perlunya perubahan mind set seorang guru. Dengan berperilaku mencitai buku. Dari buku akan tahu, dari buku akan timbulkan berbagai perilaku baru. Guru tidak usah malu untuk belajar karena guru adalah pembelajar. Dengan demikian, literasi bukan hanya slogan yang digembar gemborkan akan tetapi suatu pembiasan yang sudah tertanam dihati guru yang mejadi makanan sehari-hari karena keterbiasaannya membaca. Dari pembiasaan tersebut bisa ditingkatn menjadi kegiatan menulis. Sebab, menulis meninggalkan jejak yang abadi, untuk manusia hari ini dan nanti.

  


Share this:


Ada 1 Komentar

Kirim Komentar


Maaf, Anda tidak dapat mengirimkan komentar. Silahkan login terlebih dahulu atau jika Anda belum menjadi Member silahkan daftar.

Please wait...