Artikel

project

CEGAH, TANGKAL DAN TANAM PENDIDIKAN ANTI TERORISME PADA ANAK USIA DINI

Posted by TRI PANJIANTO IDL 2017 - Cirebon Posted at 29 Mei 2018 10:05:37 84 0


CEGAH, TANGKAL DAN TANAM PENDIDIKAN ANTI TERORISME PADA ANAK USIA DINI

Sepekan ini masyarakat Indonesia dikejutkan oleh serentetan teror. Mako Brimob, Gereja Surabaya, Rusun Sidoarjo, dan Mapolda Riau. Selain korban dan motif pelaku, yang menjadi sorotan saat ini adalah pelibatan anak-anak di bawah umur dalam aksi bom bunuh diri. Tentu kita tak habis pikir, orang waras mana yang tega mengikatkan bom di pinggang anaknya, meledak, dan tewas meengenaskan. Kenyataan tersebut membuat kita berpikir betapa 'berhasilnya' doktrin yang diterapkan para instrukturnya, sehingga orang tua dapat melakukan hal se tega itu mengajak darah daging mereka sendiri.

Kita mungkin harus mulai menyadari pentingnya pendidikan sejak dini mengenai bahaya terorisme dan cara menghindari paham tersebut. Layaknya pendidikan seks sejak dini, Membentengi anak dari paham terorisme sedikitnya dapat membentuk karakter dan pola pikir anak tentang hal tersebut. Anak diharapkan dapat tersadar bila mana di suatu kesempatan dicekoki oleh paham terorisme. Menelisik yang terjadi di Irak, Syria, dan Afganistan, anak anak dididik secara sadar untuk melakukan latihan militer dan menenteng senjata ke mana-mana layaknya orang dewasa. Oleh karena itu, diharapkan  pemerintah dapat menyisipkan pendidikan bahaya terorisme pada kurikulum sekolah dimulai dari sekolah dasar.

c-maxresdefault-e1482656666657-32wxxrg5z

Melihat banyaknya aksi terorisme dan pengeboman yang terjadi di berbagai wilayah di Indonesia seharusnya membuat kita prihatin akan keadaan Indonesia saat ini. Ditambah lagi dengan aksi teror terjadi di saat ulang tahun bhayangkara pada 1 juli membuat dua anggota Brimob terkena luka tusukan pada saat melaksanakan sholat di dekat Masjid Falateha yang letaknya tidak jauh dari Mabes Polri tersebut. Hal tersebut merupakan salah satu pembuktian bahwasannya para teroris sudah tidak takut lagi terhadap aparat negara. Bahkan mereka seakan menentang Polri secara terang terangan. Keagresifan dan kenekatan serta keberanian mereka yang sudah tidak takut lagi terhadap jajaran kepolisian patut kita waspadai.

Waspada terhadap aksi teror juga bukan semata mata hanya tugas para anggota kepolisian ataupun para abdi Negara yang lain. Namun kita sebagai warga Negara juga patut untuk melindungi bangsa kita dari orang orang yang berniat tidak baik terhadap tanah air kita . Banyak dari kalangan anak remaja sampai dewasa yang gampang terkelabuhi oleh aliran aliran radikal seperti Isis. Hal tersebut karena minimnya pendidikan paham anti terorisme di Indonesia yang tidak di terapkan sejak kecil. Menurut George Herbert Mead ada empat tahapan dalam proses sosialisasi. Pada tahap kedua yang di beri nama tahap meniru (play stage) yaitu adalah tahap-tahap yang dilalui oleh anak-anak di atas balita. Pada tahap ini anak mulai mampu meniru secara sempurna. Tahap meniru ini juga disebut tahap bermain. Pada tahap ini kesadaran bahwa dunia sosial manusia berisikan orang-orang yang jumlahnya relatif banyak sudah mulai terbentuk.

Pada tahap ini anak mengenal "significant other" yaitu orang-orang di sekitarnya yang dianggap penting bagi pertumbuhan dan pembentukan diri, misalnya, ayah, ibu, kakak, pengasuh, kakek, nenek, yang sering berinteraksi dengannya. Oleh karena itu mengapa pendidikan anti terorisme harus diterapkan pada anak di fase tersebut. Karena jika orang orang di sekelilingnya mengajarkan hal yang tidak baik maka akan cepat ditiru olehnya dan akan berdampak tidak baik di masa desawanya nanti. Pakar psikologi swiss yaitu Jean Piaget (1896-1980) dalam buku Life Span Development: perkembangan masa hidup, oleh Jhon W. Santrok pada tahun 2002, mengatakan bahwa anak dapat membangun secara aktif dunia kognitif mereka sendiri . Piaget yakin bahwa anak-anak menguasai gagasan-gagasan baru, karena informasi tambahan akan menambah pemahaman mereka terhadap dunia .

Jadi alangkah baiknya jika dari mulai sejak kecil kita tanamkan pada anak-anak megenai pendidikan anti terorisme yang penyampaiannya tentu harus sesuai dengan usia mereka. Adapun beberapa pendidikan yang harus di terapkan kepada anak-anak melalui teori juga aksi. Pertama, yaitu pendidikan Pancasila yang di maksud pendidikan Pancasila yaitu bukan hanya menghafalkan sila satu sampai lima. Namun juga memahami makna dari masing masing sila tersebut. Dan juga diajarkan tentang pengaplikasian dalam kehidupan sehari-hari. Seperti yang ditulis dalam buku pendidikan Pancasila oleh Dr. H. Syahrial Syarbani, M.A yaitu etika Pancasila di sila pertama yang mengajarkan menghormati setiap orang atau warga negara atas berbagai kebebasannya dalam menganut agama dan kepercayaannya masing-masing serta menjadikan ajaran-ajarannya sebagai panutan untuk menuntun maupun mengarahkan jalan hidupnya.

Dari kutipan buku di atas kita dapat mengajarkan kepada anak-anak bahwasannya pentingnya menghormati umat beragama lainnya, lalu kita beri contoh aksi yang sederhana dengan tidak mengejek atau tetap berteman baik dengan teman walaupun berbeda suku, ras, dan agama dengan kita. Kedua, pendidikan beragama, pendidikan beragama yang ditekankan lebih di mendorong untuk lebih beriman pada agamanya. Lebih religius dengan beramal baik, sikap penuh belas kasih, rasa rindu dan ingin selalu dekat dengan Tuhan, penuh cinta dan kasih sayang, saling memaafkan juga memiliki solidaritas kemanusiaan universal. Sebenarnya itulah persoalan yang sangat intim dalam beragama.

Kelihatannya memang sepele dan gampang diterapkan namun jika tidak di pahami secara mendalam akan membuat kita mudah di pengaruhi aliran-aliran terorisme. Jika pendidikan agama diberikan hanya sekedar teori semata hal tersebut kurang efisien. Sebaiknya kita tanamkan nilai-nilai beragama yang baik dengan diedukasi mulai dari kecil diberikan contoh hal-hal yang baik oleh keluarga terutama orang tua sebagai guru pertama dan panutan bagi seorang anak.

Ketiga, pendidikan kebinekaan, yang dimaksud di sini adalah pendidikan tentang Bhineka Tunggal Ika yang menjadi moto atau semboyan bangsa Indonesia yang artinya berbeda beda tetapi tetap satu jua. Walaupun kita berbeda pandangan politik, budaya, wilayah, suku, ras, agama, namun kita harus selalu ingat bahwasannya kita warga negara Indonesia mempunyai cita-cita dan tujuan yang sama. Maka dari itu pendidikan Kebhinekaan dan rasa Nasionalisme sangat penting ditanamkan kepada anak-anak. Pendidikan yang di tanamkan pada anak anak mengenai Kebhinekaan yaitu tentang rasa saling toleransi antar perbedaan, rasa mempunyai dan rasa ingin memperjuangkan tanah air. Dengan ditanamkannya pendidikan seperti itu mulai kecil membuat dampak baik kemajuan Indonesia kedepanya. (Panji)


Share this:


Ada 0 Komentar

Kirim Komentar


Maaf, Anda tidak dapat mengirimkan komentar. Silahkan login terlebih dahulu atau jika Anda belum menjadi Member silahkan daftar.

Please wait...