Artikel

project

" UJIAN BERBASIS KOMPUTER DI ERA DIGITAL "

Posted by Jandris Slamat Tambatua Posted at 18 Mei 2018 19:00:42 153 2


" UJIAN BERBASIS KOMPUTER DI ERA DIGITAL "

Oleh : Jandris Slamat Tambatua

Seluruh siswa-siswi SMK, SMA dan SMP telah mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer di era digital, terserah mau disebut apa, yang jelas bolak balik 'katanya' memperbaiki pendidikan lewat UJIAN di era digital. Itu tak ada maknanya. Perbaiki dulu kualitas guru maka tanpa ujian pun anak-anak dijamin memiliki kompetensi memadai.

Ini pertanyaan dari siswa saya: mengapa mereka harus melewati sebegitu banyak ujian? Sejauh mana ujian itu menguji apa yang mau diuji? Seringkali materi ujian tidak sejalan dengan apa yang diajarkan. Seringkali hasil ujian tidak sesuai dengan perhitungan siswa itu sendiri (sesudah ujian mereka seringkali mengkonfirmsikan dan mendiskusikan jawabannya dengan teman-temanya yang pintar dan bertanya dengan guru bidang studi yang diujikan. 

Sebut pula try out yang kadang hasilnya pun tidak diberikan ke siswa. Siswa-siswi saya selalu menyikapi bahwa ujian yang diadakan di sekolah dengan sangat serius. Mereka bisa begadang, melupakan aktivitas lain (teman, keluarga, hobi) disingkirkan demi ujian. Lalu muncul suatu pertanyaan, apakah betul ujian-ujian itu diadakan semata  money machine? 

Saya tidak yakin dengan teman-teman guru, kepala sekolah, dan penyelenggara pendidikan di sekolah sekejam itu. Rencana pemerintah, belum cocok dengan daerah kami  yang susah sinyalnya dan biaya server yang sangat mahal. UNBK dan USBN menjjadi pintu masuk kembalinya TIK dan KKPI sebagai mata pelajaran. Setidaknya guru TIK dan KKPI perannya semakin terlihat jelas di sekolah.

Sebetulnya UNBK itu tidak wajib punya perangkat komputer dan server baru,  seharusnya dengan  PC dan server lama pun masih bisa digunakan, masalahnya spesifikasi aplikasi UNBK memerlukan spesifikasi yang lebih besar (pada hal yang kecil juga bisa dan terpaksa ada beberapa sekolah yang  malu dibilang ketinggalan zaman karena masih belum UNBK, sehingga sekolah mulai mencari pasokan perangkat baru serta bisnis baru bergulir. 

Jika disikapi positif, saatnya mengatur sejak perencanaan hingga monitoring yang benar. Sekolah Sangat dipaksakan untuk mempunyai server dan komputer.  Kasihan sekolah swasta yang biasa untuk bisa mengikuti UNBK. Tidak semua sekolah penyelenggara UNBK siap dengan perangkat komputer dan jaringan internet. 

Bisnis akan selalu dinamis dan mengikuti permintaan pasar, sejauh itu dilakukan secara legal, transparan dan fair serta bermanfaat. Menurut saya sih tergantung dari sudut mana kita melihatnya. Yang penting anak didik kita bisa menjadi putra putri bangsa yang pintar, mandiri, jujur, cerdas dan bermartabat.

Untuk pengadaan sarana dan prasarana itu sah-sah saja, selama bisa mendukung kegiatan pembelajaran siswa, dan mungkin akan terlihat besar ketika pengadaan awal, tetapi untuk kegiatan selanjutnya malah mungkin bisa menghemat anggaran sekolah sampai dengan 80% karena sudah tidak ada biaya penggandaan soal dan sebagainya. 

Seorang guru  bukan lagi sekedar profesi semata, akan tetapi sebagai media perjuangan untuk kemajuan bangsa. Salah satunya bisa memunculkan genrasi ekstrim fanatik, seperti yang muncul belakangan ini. Rendahnya pemahaman dan tanggung jawab pemimpin akan arti penting pendidikan yang mengakibatkan kehancuran sistem pendidikan.

Bagaimanapun sistem pengawasan persuasif lebih efektif dibandingkan dengan sistem pengawasan administratif atau bahkan teknologi absen atau cctv sekalipun. Oleh karena itu pendidikan seyogyanya tidaklah dibatasi pada ruang bilik-bilik kelas tersebut tapi jauh lebih luas dan multi dimensi di luar bilik itu. Anak-anak sekarang mengatakan nya kelas adalah penjara bagi siswa-siswi. 

Artinya ada yang keliru dengan pemaknaan kelas bukan ruangnya. Penggunaan kosa kata secara normatif dimaknai secara leksikal. Jika ada makna kontekstualnya maka perlu penjelsan agar tidak menimbulkan perbedaan makna. Saya juga agak khawatir mengenai hal ini. Sepertinya kita perlu meningkatkan kualitas  gurunya, karena cara pandang dan perilaku mereka dapat mempengaruhi pola pikir siswa-siswi yang masih labil. 

Mungkin perlu diperbanyak pelatihan untuk mencetak guru-guru yang profesional, berdedikasi dan memiliki rasa nasionalisme yang baik. Akan percuma memperbanyak pelatihan guru yang profesional, perbaiki dulu sistemnya, mentalitas materialisme dari kaum pemegang kebijakannya dulu yang harus dibenahi. 

Tidak ada yang percuma  kalau tujuan dan niatnya baik untuk generasi penerus bangsa. Jika kita hanya menunggu perbaikan sistim dan perbaikan mentalitas para pemegang kebijakan, maka akan makan waktu yang sangat lama, sedangkan siswa/ siswi akan terus belajar dan berkembang. 

Selain orang tua, guru adalah fondasi utama dalam mencetak manusia yang berkualitas. Maka dari itu menjadi guru tidaklah mudah karena diperlukan dedikasi, kreatifitas dan komitmen yang sangat kuat terhadap dunia pendidikan serta didukung oleh pengembangan profesionalisme guru. Jika ada niat, perubahan apa saja dapat dimulai dari hal-hal kecil dan bermanfaat. 

Sayangnya tetap saja guru, sekolah  dan siswa juga tetap pada posisi sebagai obyek bisnis. 

©jandrisslamattambatua 


Share this:


Ada 0 Komentar

Kirim Komentar


Maaf, Anda tidak dapat mengirimkan komentar. Silahkan login terlebih dahulu atau jika Anda belum menjadi Member silahkan daftar.

Please wait...