Artikel

project

" MENUMBUH KEMBANGKAN BUDAYA SENSOR MANDIRI DI ERA DIGITAL "

Posted by Jandris Slamat Tambatua Posted at 9 Mei 2018 00:36:39 125 1


" MENUMBUH KEMBANGKAN BUDAYA SENSOR MANDIRI DI ERA DIGITAL "

Oleh : Jandris Slamat Tambatua

        Budaya sensor mandiri sudah seharus menjadi habit atau kebiasan setiap orang tua. Dengan demikan mereka akan lebih bijak lagi dalam memberikan hiburan yang pas dan sesuai dengan usia tumbuh kembang anak.

        Kemajuan teknologi di bidang digital bila tidak di ikuti dengan kesadaran budaya sensor mandiri akan menjadi blunder. Berdasarkan beberapa studi yang dil aksanakan Lembaga Sensor Film (LSF) di temukan bahwa kemajuan teknologi memberi celah untuk film lolos sensor. 

       Biasanya di indonesia sensor di pakai untuk adegan yang tidak pantas untuk di lihat karena penonton bukan hanya dewasa akan tetapi anak kecil pun ikut menontonnya, maka dari itu sensor di berlakukan dan selain adegan yang tidak baik, kata-kata kasar atau kata yang tidak pantas untuk di ucapkan atau di tiru biasanya di sensor. 

        Banyak muncul suatu tuntutan agar film tersebut di larang pelarangan pertama tapi jelas bukan terakhir terhadap sebuah film. Semua kalangan beranggapan bahwa ini menyangkut isu moral  yang tidak pantas untuk di lakukan, para pembuat film mulai cemas dan berfikiran akan memakai kode film atau kategori-kategori untuk membantu pantas tidaknya film yang akan ditonton.

        Tingkat mengkonsumsi film pada anak–anak yang masih duduk di sekolah dasar memang mengalami peningkatan. Hal itu memicu mereka menjadi semakin senang menonton film. Media yang sering mereka konsumsi adalah media televisi, yang dapat mereka tonton dengan bebas, kapan pun mereka mau. Mereka akan lebih sering duduk di depan televisi pada saat jam-jam acara anak–anak, bahkan acara lain.

        Rata-rata anak menonton televisi setiap harinya lebih dari 5 jam dalam sehari, mulai pada pagi hari, siang sehabis pulang sekolah dan malam hari, terkadang sampai lupa akan waktu. 

        Televisi memiliki banyak manfaatnya salah satunya adalah untuk memdapatkan informasi. Banyak informasi-informasi baru yang belum kita ketahui dan dapat kita ketahui dari televisi. Televisi di rumah biasanya juga di manfaatkan oleh anak dalam memperoleh informasi di antaranya : informasi berupa produk barang, ilmu pengetahuan dan wawasan seperti dunia hewan dan air yang sebelumnya belum di ketahui wujud aslinya

        Dengan adanya televisi dan media internet di era digital, kita dapat mengetahui berita-berita yang ada di luar sana apa itu berita dari luar negeri maupun dalam negeri. Serta dapat memotivasi untuk mengembangkan bakat dan minat yang kita miliki. Kita dapat informasi melalui kuis, sinetron religi dan acara tausiah-tausiah.

        Pandangan orang tua terhadap tayangan di televisi dan media internet yang di lihat oleh anaknya. Sebagian besar orang tua berpendapat bahwa televisi bermanfaat untuk meningkatkan  pengetahuan, sikap, perilaku dan keterampilan yang itu semua secara otomatis dapat mempengaruhi perkembangan moral anak.

        Besarnya pengaruh film terhadap pembentukan dan perkembangan perilaku masyarakat dari berbagai usia, perlu dikendalikan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya pengaruh negatif dari film itu sendiri. Pengendalian tersebut salah satunya dilakukan oleh pemerintah dalam bentuk regulasi

        Ketika ada yang tidak beres dalam masyarakat, orang biasanya mencari penyebabnya, meski tak bisa di bilang logis, adalah mudah untuk menyalahkan sesuatu yang baru sebagai  timbulnya penyakit sosial. 

Cara orang tua dalam memberikan arahan pada anaknya saat menonton televisi untuk perkembangan moral

       Media televisi dan internet mempunyai daya tarik yang kuat melebihi radio. Karena televisi memiliki unsur visual berupa gambar dan suara. Gambar di televisi merupakan gambar hidup yang mampu menimbulkan kesan mendalam pada pemirsa maka dari itu orang tua perlu mengkonrol, mengarahkan tentang apa yang dilihat oleh anak. 

        Beberapa masalah yang kini dihadapi industri film dan anak-anak. Pertama, film yang kini beredar di bioskop cenderung mengedepankan sisi hiburan, bukan edukasi. Kedua, tidak banyak alternatif pilihan bagi anak untuk mendapatkan hiburan melalui tontonan film  yang sesuai dengan usianya.

        Kita tidak tahu film apa lagi yang layak untuk anak karena pilihannya terbatas, sehingga membuat orang tua turut serta mengajak anaknya menonton film yang seharusnya bukan untuk anak dan sayangnya tak semua orang tua memberi pendampingan yang baik.

        Sejak awal sebelum pembuatan film mestinya sudah ada kerangka adegan yang disesuaikan dengan peruntukan film. "Sesuai norma dalam undang-undang, sensor yang menjadi tanggung jawab semua pihak. Selain Lembaga Sensor Film (LSF), semestinya juga digalakkan soal sensor adalah sang pembuat film itu sendiri. 

        Pembuat film haruslah memperhatikan norma-norma yang berlaku sebelum membuat filmnya. Ada pertentangan yang seharusnya tidak boleh terjadi antara kreativitas pembuat film dan kebutuhan masyarakat soal norma-norma kesusilaan. 

        Kreativitas pembuat film harus sejalan dengan norma masyarakat. Kalau tidak sejalan pasti ada masalah, bahwa sensor haruslah mencari titik adil. Adil bagi pembuat kreativitas dan adil bagi masyarakat yang menggunakannya, sayangnya mencari titik adil ini sangat susah. Masyarakat harus tahu kalau sensor itu bukan berseberangan tapi berjalan bersama. 

        Bangkitnya kembali dunia perfilman Indonesia, yang ditandai Festival Film Indonesia (FFI) 2004, sudah barang tentu patut di syukuri oleh semua pihak. Paling tidak, setelah tertidur pulas selama kurang lebih 10 tahun (1993–2003), dunia perfilman di Indonesia kembali menggeliat. 

        Bila di teliti lebih jauh lagi, selain kewenangan LSF menyensor film, ada sejumlah kelalaian LSF yang di nilai kalangan sineas sebagai kelemahan. Tayangan iklan televisi seperti alat tes kehamilan dan pembalut wanita yang menonjolkan tampilan sensual yang kerap kali muncul di siang hari justru tidak di perhatikan oleh lembaga ini. Padahal dampaknya cukup mengkhawatirkan terutama bagi anak di bawah umur.

 


Share this:


Ada 0 Komentar

Kirim Komentar


Maaf, Anda tidak dapat mengirimkan komentar. Silahkan login terlebih dahulu atau jika Anda belum menjadi Member silahkan daftar.

Please wait...